Friday, March 22

Tipsnya agar Tak Mudah Tertipu Hoaks

waspada hoax (Istimewa)

Triwarta.com, Jakarta – Kuatnya pengaruh media sosial semakin mengkhawatirkan. Bagaimana tidak? Orang kerap kali menjadikan media sosial atau bahkan grup chat sebagai sumber utama dalam mendapatkan informasi terkini, tanpa memastikan terlebih dahulu berita tersebut hoaks atau memang fakta.

Sebagian besar orang bahkan beranggapan bahwa benar atau salah informasi yang diperolehnya adalah urusan belakangan, yang penting cepat tersebar. Padahal, apa yang diungkapkan di media sosial itu belum tentu semuanya benar.

Di sisi lain, ada orang yang menganggap “no picture? hoax!” Namun sepertinya ungkapan tersebut juga sudah tidak berlaku lagi. Pasalnya, di era digitalisasi seperti sekarang ini, semuanya bisa dibuat dengan mudah dan diinterpretasikan sesuka hati orang yang menyebarkannya.

Dan yang tak kalah mencengangkan lagi, masih banyak saja orang yang percaya dan secara sadar ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Nah, supaya Anda tidak terjerumus melakukan hal yang sama, ikutilah tips berikut ini.

Pastikan sumbernya valid
“Berita yang menyebar di media sosial atau grup chat sering kali muncul tanpa sumber yang jelas. Jadi, sebelum Anda menyebarkan informasi, cari tahu dulu sumbernya.” jelas dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter.

Tak ada salahnya Anda menanyakan kepada orang yang memberitahukan informasi itu mengenai sumber tulisannya. Dengan demikian, ketika ada teman yang menanggapi berita yang Anda sebarkan, Anda bisa menjelaskannya.

Jika ia tidak bisa menjawab atau malah mengeles panjang lebar tak langsung pada intinya, berarti Anda tak boleh ikut menyebarkannya. Sebab, ada kemungkinan besar informasi itu hoaks belaka.

Maka, pastikan informasi yang hendak Anda sebarkan itu berasal dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan atau berasal dari situs resmi tepercaya.

Cek ulang kebenarannya
Ini juga tak kalah penting. Hindari mendapatkan informasi hanya dari satu sumber saja. Pastikan Anda mengeceknya ulang dengan membandingkannya dari berbagai sumber. Dengan begitu, Anda memiliki tolok ukur yang tepat untuk memastikan apakah berita tersebut layak diviralkan atau tidak.

Jika setiap sumber masih belum bisa memberikan kepastian atau memberikan informasi yang berbeda-beda, artinya Anda belum boleh menyebarluaskannya. Kalau sampai berita yang Anda sebar itu salah, Anda juga yang akan menanggung malu.

Jika berupa foto dan video, perhatikan adanya kejanggalan
Saat terjadi bencana alam, tak jarang masyarakat mendapatkan gambar dampak buruk dari bencana itu di dalam grup chat pribadinya. Padahal, yang gambar yang disebarkan itu bisa jadi adalah gambar dampak bencana alam yang sudah terjadi beberapa tahun silam.

Begitu pula ketika beberapa waktu lalu muncul foto aktivis dan seniman Ratna Sarumpaet dalam kondisi wajah bengkak-bengkak. Hoaks yang beredar, wanita 70 tahun itu menjadi korban penganiayaan. Belakangan, akhirnya Ratna mengakui kondisi wajahnya tersebut akibat operasi plastik yang dijalaninya.

Nah, supaya tak mudah terkecoh oleh gambar atau video, manfaatkanlah mesin pencari di internet untuk memastikan keasliannya. Khusus untuk foto, perhatikan juga bila ada perbedaan warna atau resolusi yang biasanya luput dari perhatian orang. Karena saat ini banyak foto yang disunting agar viral.

Jangan jadikan media sosial sebagai sumber berita
Kecuali media sosial tersebut milik instansi resmi yang bertanggung jawab, hentikan menjadikan media sosial sebagai sumber informasi utama Anda. Baik itu facebook, twitter, instagram, semuanya berpotensi memiliki akun palsu yang sengaja dibuat untuk menebar kebohongan hingga merugikan banyak pihak.

Jika Anda tak sengaja membaca berita atau melihat gambar yang berpotensi jadi hoaks, lebih baik lakukan karena sekadar “cukup tahu saja” dan jangan tergoda untuk ikut menyebarkan, apalagi menulis tambahan deskripsi yang melebih-lebihkan.

Tunggulah konfirmasi dari pihak terkait
Saat ada berita simpang siur yang telanjur menjadi pergunjingan hangat di media sosial, jangan terpengaruh dan ikut-ikutan. Coba tunggulah konfirmasi dari pihak berwajib dan pihak yang berkaitan.

Jika benar terjadi, biasanya tak lama kemudian mereka akan melakukan konferensi pers kepada awak media. Untuk apa Anda mendebatkan hal-hal yang belum pasti kebenarannya? Selain membuang-buang waktu berharga Anda, hal tersebut juga bisa memberikan kesan sok tahu yang tidak baik. Jadi, bersabarlah sedikit!

Kendalikan jemari Anda
Ya, semuanya berawal dari jari-jemari Anda, terutama ibu jari. Tahan pergerakan jempol Anda sebelum dipastikan bahwa berita tersebut nyata adanya. Jempol yang tak bisa dikendalikan bisa mengakibatkan tersebarnya hal-hal buruk, seperti fitnah dan ujaran kebencian.

Jangan sampai Anda ikut terlibat dalam penyebaran berita palsu yang akan merugikan diri Anda dan keluarga.

Dilansir dari Kominfo, penyebar hoaks dapat dikenakan KUHP UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), khususnya Pasal 28 ayat 2 yang mengurus tentang penyebaran ujaran kebencian dan SARA.

Oleh sebab itu, hindari menjadi penebar hoaks apabila tidak ingin dipidanakan selama 6 tahun atau diminta untuk membayar denda 1 miliar. Gunakanlah media sosial sebijaksana mungkin. Karena pada dasarnya, media sosial diciptakan untuk menjalin hubungan baik dengan orang, bukan malah memperburuk kondisi sosial.

Penulis : Ana
Editor : Ulfa

Leave a Reply

%d bloggers like this: