Sunday, March 24

Cara Mengetahui Detak Jantung Normal atau Terlalu Cepat

Detak jantung (Foto: Istimewa)

Triwarta.com, Jakarta – Detak jantung yang melewati batas kecepatan normal harus dibedakan dengan kondisi berdebar-debar. Orang yang merasa dadanya berdebar-debar belum tentu terlalu cepat detak jantungnya. Demikian pula detak jantung yang terlalu cepat tak selalu disertai rasa berdebar-debar.

Menurut American Heart Association (AHA), normalnya jantung berdetak 60-100 kali per menit. Untuk menghitung denyut jantung, Anda tak perlu ke dokter. Anda hanya memerlukan kemampuan berhitung sederhana dan sebuah jam tangan atau stopwatch. Langkah menghitung denyut jantung adalah sebagai berikut:

Duduklah dalam posisi rileks. Tengadahkan tangan kiri. Lalu letakkan ujung jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan di pergelangan tangan kiri tepat di bawah pangkal ibu jari.

Secara perlahan dan lembut, tekan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan di pergelangan tangan kiri hingga terasa ada denyut nadi di bawah jari Anda.

Hitung denyut nadi Anda dalam 15 detik (gunakan jam tangan atau stopwatch untuk mengukur kecepatannya), lalu kalikan hasilnya dengan 4. Hasil perkalian tersebut adalah denyut nadi Anda dalam satu menit.

Waktu paling ideal untuk melakukan pemeriksaan ini adalah pada pagi hari saat Anda baru bangun tidur. Untuk memastikan bahwa hasilnya akurat, lakukan pemeriksaan ini sebanyak tiga kali berturut-turut. Jika cara pemeriksaan yang Anda lakukan benar, maka hasil pemeriksaan akan menunjukkan angka yang tak jauh berbeda.

Detak jantung Anda dianggap terlalu cepat, atau secara medis disebut takikardia, bila hasil penghitungan denyut jantungnya lebih dari 100 kali per menit.

Bisa menandakan suatu penyakit
Tak semua kondisi detak jantung terlalu cepat berbahaya. Ada beberapa kondisi sehari-hari yang dapat menyebabkan jantung berdenyut lebih cepat dari seharusnya, seperti berolahraga, stres, merasa cemas, atau ketakutan, konsumsi kafein, misalnya setelah minum kopi atau teh, demam, efek samping obat tertentu, misalnya obat flu yang mengandung pseudoefedrin atau efedrin.

Kondisi-kondisi tersebut dapat menyebabkan jantung berdetak lebih cepat untuk sementara waktu, dan hal ini tak perlu membuat Anda khawatir. Namun demikian, ada pula berbagai penyakit yang ditandai dengan detak jantung yang terlalu cepat, di antaranya adalah:

Penyakit jantung koroner yang menyebabkan gangguan aliran listrik jantung
Penyakit katup jantung
Gagal jantung (secara awam sering disebut sebagai pembengkakan jantung)
Gangguan elektolit
Hipertiroid (kelebihan hormon tiroid di dalam darah)
Terlalu banyak minum alkohol
Efek samping zat psikoaktif seperti kokain, ekstasi, atau amfetamin
Untuk membedakan kondisi takikardia yang normal dan berbahaya, ada tanda bahaya yang harus Anda amati, yaitu:

Jantung berdetak lebih cepat terjadi terus menerus
Pusing atau sensasi seperti melayang terjadi berulang kali
Pingsan berulang
Mudah merasa lelah atau tak bertenaga
Nyeri dada
Sesak napas
Badan terlihat makin kurus atau berat badan turun drastis
Tungkai bawah bengkak
Jika salah satu dari tanda bahaya di atas pernah dirasakan, maka kemungkinan besar Anda mengalami detak jantung terlalu cepat. Segera periksakan diri ke dokter agar tak terjadi komplikasi yang membahayakan jiwa.

Penulis : Ana
Editor : Ulfa

Leave a Reply

%d bloggers like this: