Sunday, March 24

Wayang Dikagumi Dunia, Namun “Terpinggirkan” di Negeri Sendiri

Wayang

Triwarta.com – Indonesia adalah rumah dari wayang, hal ini ditunjukkan oleh Sejumlah penggiat seni wayang yang tergabung di Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), dalam perhelatan meeting program ‘7th General Assembly’ yang berlangsung di Markas UNESCO, Paris, beberapa pekan lalu.

Dalam pementasan seni wayang yang disaksikan ratusan orang dari berbagai Negara ini mendapat apresiasi yang cukup besar dari penonton.

“Tentu kita bangga dapat memperlihatkan hal ini kepada masyarakat dari manca Negara,” kata Gaura Mancacaritadipura dalang berdarah Australia namun sudah menjadi warga negara Indonesia, salah satu delegasi yang diutus Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENAWANGI), untuk mengikuti acara ini.

Selain mengikuti sidang ‘7th General Assembly’, delegasi Indonesia diberi kesempatan tampil mengisi pertunjukan. Menyuguhkan performance Wayang Orang dan Wayang Kulit dalam durasi pendek, bertajuk “Kresna Duta.”

“Hal ini boleh dikatakan suatu inovasi, ada dua sisi kelir (layar) dengan dua dalang tampak depan belakang. Kemudian permainan ini dikolaborasikan dengan Wayang Orang. Ini cukup menarik. Saya banyak mendengar beberapa delegasi dari Negara lain, setelah menyaksikan mereka mengacungi jempol,” ujar Gaura Mancacaritadipura.

Pergelaran Wayang “Kresna Duta” menampilkan dua dalang muda profesional, Bagus Baghaskoro Wisnu Murti, S.Sn (Dalang Muda asal Jawa Timur), serta Muhammad Irawan, SE (Dalang Muda dari Jakarta). Keduanya mampu mengakselerasikan elemen instrumental (musik), solah (tempo permainan), dan cepengan (memegang/menggerakkan wayang) yang mengesankan.

Daya imajinasi kedua dalang mampu mengeksplorasi lakon yang ditangkap penonton secara multi interpretatif. Keunggulan estetik ini kemudian semakin diperkuat dengan penampilan para aktor dan aktris handal dari dunia Pewayangan Indonesia, Agus Prasetyo S.Sn (WO Sriwedari), berperan sebagai Karno, Matheus Wasi Bantolo, S.Sn., M.Sn (ISI Surakarta) berperan sebagai Kresna, serta Dra. Eny Sulistyowati S.Pd, MM (Seniman Tari Jakarta) berperan sebagai Kunti.

“Ini kolaborasi yang solid. Diplomasi Indonesia mempromosikan Wayang secara mandiri. Multi track diplomacy. Tidak dilakukan Negara (Pemerintah), tapi dari para penggiat wayang dari lembaga non-Pemerintah (NGO). Penampilannya bagus. Mengantar kebudayaan Indonesia semakin mendunia,” ujar Jeff Cottaz, Pengamat Budaya Indonesia, berkebangsaan Perancis.

Pada sisi lain Jeff Cottaz, menyampaikan tentang pentingnya acara ini. Melalui forum ini setidaknya, wayang dapat dijadikan sebagai media ekspresi yang memperlihatkan karakter sebuah bangsa.

Pengamat budaya yang pernah tinggal di Indonesia ini sekaligus menyayangkan, wayang justru terlantar dan terpinggirkan di negerinya sendiri.

“Kami di sini, di UNESCO mengenal wayang sebagai budaya dunia. Tapi ingin saya katakan, sebelum mendunia wayang harusnya me-Nusantara. Saya pernah tinggal di Indonesia, banyak sekali daerah yang tidak mengerti sama sekali wayang,” ujar Jeff.

Jeff Cittaz mendorong SENAWANGI agar terus berupaya mengenalkan wayang yang berkelanjutan terutama pada generasi muda. Maksudnya, supaya wayang itu menjadi buah pikiran.

Menurut Dra. Eny Sulistyowati S.Pd, MM selaku Ketua Delegasi, Indonesia menargetkan, antara lain memelihara kepercayaan dunia melalui badan dunia UNESCO, bahwa Wayang Indonesia tetap lestari, dijaga dan dikembangkan.

SENAWANGI sebagai lembaga yang sudah terakreditasi di UNESCO punya kewajiban untuk mengikuti sidang ini. General Assembly secara khusus dimaksudkan untuk meninjau keadaan kerjasama dengan UNESCO.

“Jika kita tidak pernah hadir mengikuti sidang, dan tidak pernah memberi laporan, maka akreditasi kita dicabut,” jelas Eny Sulistyowati.

Ikut serta para penggiat seni dan budaya lainnya, antara lain; Sumari, S.Sn., (Sekretaris Umum SENAWANGI), Eddie Karsito, Wahyu Wulandari, dan Ina Sofiyanti, tim pendukung event menyeluruh pada sidang-sidang ‘7th General Assembly’ di Paris.

‘General Assembly’ adalah forum NGO – ICH, jaringan yang memiliki platform untuk berkomunikasi, pertukaran dan kerjasama antar organisasi penggiat budaya, yang terakreditasi oleh UNESCO. Sesuai Konvensi UNESCO forum ini secara bersama-sama, menjaga nilai-nilai warisan budaya tak berwujud (Intangible Cultural Heritage). General Assembly’ diselenggarakan setiap dua tahun sekali. Tidak kurang dari 500 orang delegasi dari 175 Negara bersidang di acara ini.

Leave a Reply

%d bloggers like this: